Finally, I'm able to steal my free time to write some random thoughts. Things are so damn busy right now, like I said before. The school exams and national examinations are coming towards me, and here I am, facing my Yahoo! inbox, wondering why my host-mother from South Korea haven't replied to my e-mail yet. And I have exercises to do as well, but... yeah, I'm too sleepy and too lazy to just open and do it. Don't copy my bad habit, friends, because one day you'll be doomed.
So! I just passed the practical test, which was kind of... a little piece of hell. I have the double-language attack on the first day of the test: English and Javanese. HAHAHA. Okay, seriously, my tongue was kinda "twisted" because I had to memorized 2 texts on different languages. We did narrative monologues. I had to talk about birds on English and the traditional puppet (re: wayang) character on Javanese. Oh, and on Javanese, we had to talk in krama Javanese, which means the language we used when we're talking to someone's older than us. MY TONGUE WAS TWISTED I COULDN'T---
Uhm. Okay, enough with that. But the tests was quite successful, I think. Alhamdulillah. But there's some mistakes that I made, for sure. On Biology test, for example. I accidentally dropped the beaker glass on the table and caused an obvious sound, then you can imagine how ashamed I am when the whole room was looking at me. Oh well... -__- and on the very last day of the test, we had P.E. The next day, I had pain on my body. Okay, I must say, I'm not accustomed to do body exercises...
After the practical test, hmm... there's no major events. Unless you count my current try out result. Oh, okay then. I was "thrown away" from the top 10. But I'm quite grateful knowing that my scores generally increased a little bit. Such a great improvement, was it? Next time, I must retain my real position on top 10!
I just can't believe that Jessica Amornkuldilok from Thailand got the title as Asia's (first) Next Top Model. While Filantropi Witoko from Indonesia was eliminated on episode 4... I can't wait for the cycle 2 of AsNTM!
Wait, I was supposed to talk about my life, not that television show that was hosted by Nadya Hutagalung...
Hm? Maybe that's all for now. I still have homework to do, and... well, bye.
I know, this is such a random post. But shut up, at least I wrote something here. Bye!
-K
This isn't a blog about photography; it's a blog about little photographer's daily life.
Kamis, 28 Februari 2013
Sabtu, 02 Februari 2013
My Life's Mine. Your Life's Yours.
I just stalked my friend’s Instagram account when I
saw something that kinda envious. Herself in a portrait with her friends.
Looked so happy. I was quite... well, feel jealous and something like that. I’ve
never had such a friendship like that. Hanging out, take photos in photobox... never. Ever.
And I often saw them throwing milkshake, eggs, flour,
and water to each other when one of them had her birthday. My father always
looked upset when he saw such a thing. He always warned me to NOT to do that. I
always like, “Hmm, okay Dad, yeah” while inside, I’m like “Relax, Dad. NO ONE
would throw flour and something like that to me on my birthday. I’m not that
famous. My best friend even once forgot about my birthday...”
Me? Jealous?
To be honest, YES. But I always remember that me and my friends have another
way to have fun. We’re not kind of people who like to spent a lot of money
(well, maybe yes, but not so often) only to have fun. Just gather around and have
a chit-chat or something... that’s quite fun.
And then I realized: why do I have to be jealous at something that other people have when I
already have something that people jealous at?
Let me give you an example. My mother, for sure. Some
of my friends said that I have to be grateful since I have such a great mother
like her, and yeah, I do. My mother isn’t home right now, and since her leaving
I’ve dreamt about her twice. See? I do love her. So do my friends. FYI, my
mother is a counselor in my school. No wonder my friends know her.
So. The point is, my friends said that they are
jealous at me because I have such an angel-hearted mother. Okay, I know this is
quite exaggerated, but my friends said so. I just laughed at them and said
thank you. Back to the question, why do
you have to be jealous at something that other people have when you already
have something that people jealous at? That is the point.
Also, this is my life that God had given to me. This
is my life, and I should enjoy it. Enjoy every hour, every minute, and every
second of your life. And every milisecond, microsecond, and so on. I have to
confess that sometimes there’s one point where you feel depressed, sad, down,
and something like that. Let’s just say, there’s some dark moments in your
life. But that’s normal. That’s human nature. That’s make sense. Just be happy.
Although sometimes I wish I can be like them... the
girls I’ve noticed above...
So, why do I have to be jealous at other people’s
life? :)
My life’s mine. Your life’s yours.
Senin, 21 Januari 2013
Untuk 3 Bulan ke Depan...
Yang kita perlukan sekarang adalah, kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan melakukan lebih banyak dari biasanya, mata yang akan selalu melihat ke sekeliling lebih dari biasanya, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras daripada baja, serta mulut yang akan selalu berdoa.
- 5 cm, karya Donny Dhirgantoro (dengan sedikit perubahan)
Yap. Alhamdulillah aku senang membaca, alhamdulillah aku senang nonton film. Banyak banget buku (dan film) yang udah memberi semacam suntikan energi positif ke aku. Contohnya, tetralogi Laskar Pelangi, trilogi Negeri 5 Menara (walaupun buku terakhir dari trilogi ini belum terbit), dan tentu saja, buku yang baru saja aku tamatkan dalam dua hari: 5 cm. Aku mau nulis review buat novel dan filmnya, tapi nanti saja, deh.
Banyak banget kutipan bermutu yang aku dapet dari beberapa novel tadi. Misalnya, man jadda wajada dari novel Negeri 5 Menara. Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Well, dulu kayaknya aku pernah cerita, kalo pepatah Arab ini bikin mood belajarku naik dan sempat bikin prestasiku di sekolah lumayan bagus... waktu kelas 7 dulu. Hahaha. Sekarang? Naik-turun. Kayak roller coaster. Eh, bukan. Yang lebih gampang aja: kayak bianglala. Kadang di atas, kadang di bawah. Yah, tapi seenggaknya masih bertahan di 30 besar, lah. Walaupun dulu waktu naik kelas 9 nyaris terdepak dari 30 besar... (||| _ _)
Apalagi, sebentar lagi aku bakalan menghadapi UN. Ini aja ngetik sambil nyuri waktu belajar buat TO 2. Jangan ditiru ya ._.
Oke, balik ke topik awal. Tunggu bentar. Sebenernya aku lagi ngomong apaan, sih...
Oiya, motivasi menjelang UN...
3 bulan menuju UN! Ini bulan Januari. UN-nya bulan April. Jadi, ya, 3 bulan! Dan ngomong-ngomong, ulang tahunku H-5 ujian sekolah... .___. #oke #duniaharustahu
Jadi, menurutku sih, motivasi terbesar biar semangat belajar, ya dari diri kita sendiri. Jadi kita harus mulai sadar dari sekarang...
Kalau males gimana? Ya, dibikin gak males dong. Usaha! Pikirin masa depanmu! Bayangin gimana perasaanmu kalau kamu sukses UN, terus apply ke SMA-nya lancar, terus, terus... pikirin itu terus. Insya Allah kamu jadi semangat. Atau tulis kata-kata motivasi yang besar sekalian, tempel di dinding kamar, di buku, atau apapun lah.
Duh, ntar kalo soal UN-nya susah gimana? Ah, kok pesimis gitu. BANYAK LATIHAN, itu kuncinya. Harus kuakui, kadang-kadang kalau lagi try out, aku suka nyesel kenapa nggak banyak latihan soal waktu lagi belajar. Semoga nggak terjadi ke kalian, ya! Banyak latihan, banyak baca, dan ini yang penting: jangan malu bertanya. Kalau malu tanya ke guru, tanya saja ke teman-temanmu. Asal jangan tanya waktu ulangan ya, hahaha. Kalau ada materi yang nggak ngerti, tanya! Kadang-kadang malah aku yang ditanyai teman-teman, apalagi kalau lagi ngerjain latihan soal Bahasa Inggris, hehe :3 Yang penting, jangan takut. Pede aja, asal jangan takabur :)
Terakhir, GANBATTE KUDASAI YO NE!! Good luck, and may the odds be ever in your favor! SEMANGAT! (9'o')9
Selasa, 15 Januari 2013
Be grateful.
Be grateful!
It feels funny when someone complains on something when he or she already has everything.
Tahu maksudku, kan?
Ya, bayangkan saja, kamu punya teman yang nyaris bisa dibilang sempurna. Cantik, tinggi, pintar, periang, dan punya banyak teman. Baik hati, pula. Nah, sayangnya dia suka mengeluh. Mengeluhnya tentang hal-hal kecil, pula. Coba saja, pasti kalian kesal, kan? Well, koreksi buat diriku juga, sih. Hahaha. Soalnya, beberapa teman pernah secara nggak langsung bilang kalau aku nggak pernah bersyukur.
Padahal, kalau kita nggak "buta", pasti kita bisa melihat banyak banget kelebihan di diri kita. Misalnya, alhamdulillah kita dilahirkan dalam kondisi sehat, alhamdulillah kita masih punya orangtua, alhamdulillah kita punya keluarga yang sayang sama kita, alhamdulillah kita dianugerahi (cie, bahasanya :p) kepintaran sama Allah, dan lain-lain.
Pokoknya gitu, deh.
Belakangan ini, aku sering sekali ngomong "Be grateful!" sama diri sendiri. Entahlah, tapi begitu ngomong itu, rasanya jadi sedikit lebih baik. Nggak jadi badmood. Aku juga jadi inget kelebihan apa aja yang aku punya, dan itu bikin aku sedikit merasa bersyukur. Alhamdulillah.
Menurutku sih, sekali-kali ngeluh boleh sih, ya. Sifat dasar manusia, kan? Nggak pernah puas. Tapi jangan keseringan juga. Selain bikin mood jadi buruk, keseringan ngeluh juga bikin orang-orang di sekitar kita jengah. Pengalaman pribadi, sih. HAHAHA.
...jadi ceritanya nyindir diri sendiri? :p
Diawali dengan seorang teman yang mengingatkan aku untuk bersyukur ketika nilai ulangan harianku turun, sedangkan nilai dia lebih rendah daripadaku.
"Bersyukur dong. Kamu pinter kok, aku akui..."
Hahaha. Perlu kamu ketahui, Teman, kelasku adalah kumpulan anak-anak pintar dan rajin. Dengan kata lain: sedikit saja lengah, kamu bakal jatuh. Tahu maksudku, kan? Nah, tapi setidaknya kan (kata orang-orang) kalau dibandingkan dengan kelas lain, aku bisa dibilang pintar lah, alhamdulillah.
Lalu, temanku ini bilang kalau skill fotografiku lebih bagus daripada dia. Jadi, jangan patah semangat dalam mempelajari fotografi. "Kamu kan punya peralatan yang memadai," katanya.
Masih belum puas, dia melanjutkan, "Dan inget, kamu punya orangtua yang hebat, kamu punya dua adik yang nakal, untuk mengajarimu bagaimana caranya menahan amarah, kamu punya peralatan yang memadai untuk kegiatan fotografimu, dan kamu punya teman-temanmu, yang berjanji bakalan terus membuatmu senang saat kamu sedih!"
...alhamdulillah :)
It feels funny when someone complains on something when he or she already has everything.
Tahu maksudku, kan?
Ya, bayangkan saja, kamu punya teman yang nyaris bisa dibilang sempurna. Cantik, tinggi, pintar, periang, dan punya banyak teman. Baik hati, pula. Nah, sayangnya dia suka mengeluh. Mengeluhnya tentang hal-hal kecil, pula. Coba saja, pasti kalian kesal, kan? Well, koreksi buat diriku juga, sih. Hahaha. Soalnya, beberapa teman pernah secara nggak langsung bilang kalau aku nggak pernah bersyukur.
Padahal, kalau kita nggak "buta", pasti kita bisa melihat banyak banget kelebihan di diri kita. Misalnya, alhamdulillah kita dilahirkan dalam kondisi sehat, alhamdulillah kita masih punya orangtua, alhamdulillah kita punya keluarga yang sayang sama kita, alhamdulillah kita dianugerahi (cie, bahasanya :p) kepintaran sama Allah, dan lain-lain.
Pokoknya gitu, deh.
Belakangan ini, aku sering sekali ngomong "Be grateful!" sama diri sendiri. Entahlah, tapi begitu ngomong itu, rasanya jadi sedikit lebih baik. Nggak jadi badmood. Aku juga jadi inget kelebihan apa aja yang aku punya, dan itu bikin aku sedikit merasa bersyukur. Alhamdulillah.
Menurutku sih, sekali-kali ngeluh boleh sih, ya. Sifat dasar manusia, kan? Nggak pernah puas. Tapi jangan keseringan juga. Selain bikin mood jadi buruk, keseringan ngeluh juga bikin orang-orang di sekitar kita jengah. Pengalaman pribadi, sih. HAHAHA.
...jadi ceritanya nyindir diri sendiri? :p
Diawali dengan seorang teman yang mengingatkan aku untuk bersyukur ketika nilai ulangan harianku turun, sedangkan nilai dia lebih rendah daripadaku.
"Bersyukur dong. Kamu pinter kok, aku akui..."
Hahaha. Perlu kamu ketahui, Teman, kelasku adalah kumpulan anak-anak pintar dan rajin. Dengan kata lain: sedikit saja lengah, kamu bakal jatuh. Tahu maksudku, kan? Nah, tapi setidaknya kan (kata orang-orang) kalau dibandingkan dengan kelas lain, aku bisa dibilang pintar lah, alhamdulillah.
Lalu, temanku ini bilang kalau skill fotografiku lebih bagus daripada dia. Jadi, jangan patah semangat dalam mempelajari fotografi. "Kamu kan punya peralatan yang memadai," katanya.
Masih belum puas, dia melanjutkan, "Dan inget, kamu punya orangtua yang hebat, kamu punya dua adik yang nakal, untuk mengajarimu bagaimana caranya menahan amarah, kamu punya peralatan yang memadai untuk kegiatan fotografimu, dan kamu punya teman-temanmu, yang berjanji bakalan terus membuatmu senang saat kamu sedih!"
...alhamdulillah :)
Sabtu, 12 Januari 2013
Spelling Bee - part 2
Jadi, melanjutkan post yang kemarin, Spelling Bee part 1. Intinya, ya, Hafidh dan aku menang, dan kami berhak maju ke lomba Spelling Bee tingkat nasional di Jakarta.
Singkat cerita, setelah ngurusin ini-itu--biaya, transportasi, akomodasi, makan, dan lain-lain--tanggal 4 November kemarin akhirnya kami berangkat ke Jakarta, didampingi Mr Ag. Mr Muji nggak bisa ndampingin, soalnya tanggal segitu adiknya mau nikah. Yah ._. berarti yang ke Jakarta hanya tiga orang.
Singkat cerita, setelah ngurusin ini-itu--biaya, transportasi, akomodasi, makan, dan lain-lain--tanggal 4 November kemarin akhirnya kami berangkat ke Jakarta, didampingi Mr Ag. Mr Muji nggak bisa ndampingin, soalnya tanggal segitu adiknya mau nikah. Yah ._. berarti yang ke Jakarta hanya tiga orang.
Rabu, 02 Januari 2013
Intermezzo
Pertama-tama, Happy New Year 2013! *tebar konfeti* *nyalain kembang api*
Oke, sekedar intermezzo karena aku sedang malas menulis lanjutan Spelling Bee - part 1. Ada yang nungguin Spelling Bee part 2 nggak nih? Nggak ada? Oh, ya sudah kalau begitu. *pergi*
Hari ini, aku kembali melanjutkan rutinitas sebagai anak SMP. Kelas 9, pula.
Eh. Tunggu.
AKU SUDAH KELAS SEMBILAN.
Berarti ini tahun terakhirku di SMP. Yah. Berbagai ujian sudah menanti di depan mata: ujian sekolah, ujian praktek, dan tentu saja, ujian nasional. Matilah gue... *le dies*
Dan itu juga berarti, tahun ini aku bakal lulus SMP (amin!) dan masuk SMA. Waktu cepat sekali berlalu, ya. Rasanya kemarin aku baru masuk SMP, eh, sekarang sudah mau lulus. Agak nggak rela, sih, ninggalin SMP. Tapi ya, mau gimana lagi. Masa iya aku mau tinggal di SMP lebih lama lagi...
Minggu, 25 November 2012
Spelling Bee - part 1
Hai.
Hal pertama yang harus aku akui adalah... em, aku bingung mulai dari mana.
Jadi, ini cerita lama.
Tanggal 6 Oktober 2012. Hari Sabtu. Aku bangun jam 3 pagi tanpa alasan yang jelas. Aku baru saja akan menarik selimut kembali ketika aku ingat sesuatu.
...hari ini aku lomba. Lomba Spelling Bee.
Ceritanya panjang. Kenapa aku bisa ikut lomba itu? Well, ceritanya dimulai tiga hari sebelumnya. Rabu, 3 Oktober 2012. Aku sedang mengerjakan soal Matematika ketika Mr Ag--mantan wali kelasku sekaligus guru bahasa Inggris kelas 7 dan 8--masuk ke kelas dan memberi pengumuman. Intinya, hari itu bakal diadakan seleksi buat milih peserta lomba Spelling Bee besok Sabtu. Adel, yang duduk di sebelahku, menoleh dan bilang, "Ikut sana, Mith!" tapi aku hanya nyengir dan kembali mengerjakan soal di buku. Tawaran yang menarik, kupikir. Diam-diam aku pingin ikut, tapi rasanya kok... males.
Hal pertama yang harus aku akui adalah... em, aku bingung mulai dari mana.
Jadi, ini cerita lama.
Tanggal 6 Oktober 2012. Hari Sabtu. Aku bangun jam 3 pagi tanpa alasan yang jelas. Aku baru saja akan menarik selimut kembali ketika aku ingat sesuatu.
...hari ini aku lomba. Lomba Spelling Bee.
Ceritanya panjang. Kenapa aku bisa ikut lomba itu? Well, ceritanya dimulai tiga hari sebelumnya. Rabu, 3 Oktober 2012. Aku sedang mengerjakan soal Matematika ketika Mr Ag--mantan wali kelasku sekaligus guru bahasa Inggris kelas 7 dan 8--masuk ke kelas dan memberi pengumuman. Intinya, hari itu bakal diadakan seleksi buat milih peserta lomba Spelling Bee besok Sabtu. Adel, yang duduk di sebelahku, menoleh dan bilang, "Ikut sana, Mith!" tapi aku hanya nyengir dan kembali mengerjakan soal di buku. Tawaran yang menarik, kupikir. Diam-diam aku pingin ikut, tapi rasanya kok... males.
Langganan:
Postingan (Atom)